NASIONAL


Sabtu, 02 Januari 2016

Tagged under: , , , , ,

Juara Pidato yang Ingin Jadi Dokter

Aris MolidySantri berpresatsi
dari Misbahul Ulum Paloh
MENGUCAPKAN salam yang diiringi salaman dan mencium tangan guru, itulah hal pertama yang selalu dilakukan Aris Molidy saat bertemu gurunya di Pesantren Misbahul Ulum Paloh, Kecamatan Muara Satu, Lhokseumawe. Hal itu pula yang dilakukan santri asa Desa Tambon Tunong, Kecamatan Dewantara, Aceh Utara saat Serambi menyambangi pesantren itu Sabtu (6/8).
Dengan sikap sopan santun yang dimilikinya, anak pertama dari lima bersuadara pasangan H Rasyidi dan Hj Nurjannah itu memang sangat dihargai teman-temannya. Apalagi, sejak masuk pesantren itu hingga kini kelas V (kelas II MAS Misbahul Ulum) Aris selalu mendapat ranking satu di kelas. Selain meraih prestasi bidang akadamik, Aris juga begitu aktif pada setiap kegiatan ekstrakurikuler yang digelar pesantren itu.
Buktinya, nyaris tiap tahun Aris memperoleh juara pada setiap lomba pidato bahasa Inggris yang digelar pesantren itu atau tingkat Kota Lhokseumawe. “Saya mampu berpidato dalam bahasa Inggris berkat aturan di pesantren ini. Pasalnya, sejak semester II santri wajib berbahasa Inggris dan Arab di kompleks dayah. Walau awalnya agak  sulit, namun lama kelamaan saya terbiasa dengan bahasa Inggris. Hasilnya, saat mengikuti lomba pidato saya beberapa kali menjadi juara,” ungkapnya.
Prestasi yang diraihnya antara lain, juara I pidato Bahasa Inggris tingkat pasantren tahun 2008 dan 2010, serta sebulan lalu Aris juga meraih juara dua lomba pidato bahasa Inggris tingkat Lhokseumawe yang digelar Radio Istiqamah PT Arun.
Ditanya kesannya selama lima tahun dirinya berada di Pasantren Misbahul Ulum, Aris mengaku begitu besar makna pendidikan yang telah diterimanya, terutama dengan ketatnya disiplin membuat dia kini menjadi orang yang sangat menghargai waktu. “Terutama untuk bisa selalu shalat berjamaah dan tidak telat masuk belajar di sekolah atau pengajian,” urainya.
Di akhir ceritanya, Aris mengaku meski sudah banyak ilmu agama yang diperolehnya di pesantren itu, setamat dari pesantren itu dirinya ingin menjadi dokter. Karena selain dari dirinya, harapan yang sama juga datang dan menjadi cita-cita kedua orang tuanya. “Karena pekerjaan dokter sangat mulia karena kita bisa menolong orang yang sakit,” ujarnya polos. Semoga! (Saiful Bahri)

0 komentar:

Posting Komentar